logo blog

Pawang India dan sebuah gelas

Arti Sebuah Konsentrasi.

Tersebutlah seseorang yang ingin memperoleh sebuah pelajaran dalam hidupnya. Orang lantas menyebut seorang pawang India yang bijak. Maka pergilah si lelaki dari satu negeri ke negeri berikutnya . Dari sebuah propinsi ke propinsi lain. Hingga sampailah orang itu di kediaman pawang India. Diketuknya pintu rumahnya. Yang keluar ternyata seorang nenek tua yang berujat, “Oh silahkan masuk!”

Si laki-laki pun masuk ruang tamu. Ia tunggu satu, dua hingga tiga jam. “Apa-apaan ini?” Tanyanya dalam hati. Si Pawang lantas menemuinya dengan dingin. Ia duduk dan hanya diam. Ia diam membisu. Si tamu bingung sembari berfikir bagaimana ia akan memulai pembicaraan.

Si Pawang terus diam. Si laki-laki akhirnya memberanikan diri bicara seraya berujar, “Saya datang dari negeri yang jauh dengan maksud agar memperoleh hikmah darimu demi kesuksesan hidupku”.Kata si Pawang India, “Baik”Namun setelah ucapannya “BAIK”, ia hanya diam dan terus diam. Kemudian si Pawang berujar, “Apakah Anda suka teh?”Si laki-laki langsung menjawab, “Baik, aku berselera minum. Saya orang terlantar sudah tiga jam ini mulutku tak kemasukan apa-apa”Sebentar kemudian si Pawang membawa nampan berisi teko teh dan gelas. Lantas dituangkannya ke gelas dan tiada henti ia tuangkan. Gelas sudah penuh namun si Pawang tidak juga menghentikan aksinya. Nampan juga akhirnya penuh dengan air namun si Pawang terus menuangkan isi tekonya. Akhirnya air teh menggenang di meja makan dan terus saja ia menuangkan  air tehnya. Air kemudian menggenang di tanah dan menjadi banjir. Tiba-tiba sang tamu berujar, “Hei hei cukup hentikan aksimu! Engkau ini pawang yang bijak ataukah gila?”Kata si Pawang sambil melempar tanya, “Sudah cukup?” “Dan bahkan berlebihan” Jawab si tamu.

Camkan wahai saudaraku, lanjut sang Pawang, “Jika engkau ingin mengambil hikmah dalam kehidupan ini, gelasmu harus kosong. Kau sudah melihat bagaimana gelas jika penuh dan  banjir. Ketika aku tidak segera bicara padamu karena gelasmu masih penuh (pikiranmu masih banjir dengan macam-macam pikiran) sehingga engkau tak bisa menerima nasehat dan petuahku. Jika engkau ingin mengambil hikmah di kehidupan ini, kosongkanlah hatimu dari kesibukan-kesibukan agar engkau bisa mengisinya dengan hikmah. Kosongkan hatimu dari kedengkian. Dan dari segala pikiran negatif”.

Kesimpulan...
Jika engkau menghadiri kajian atau prifat keagamaan, penuhilah hatimu dengan materi yang disampaikan. Atau wacana-wacana yang dijelaskan. Engkau harus mengosongkan gelasmu (pikiranmu) agar engkau bisa menerima. Jika tidak kamu kosongkan pikiranmu, maka materi yang disampaikan hanya akan membeludag dan mengalir nggak karu-karuan, sebagaimana air teh keluar dari gelas dan banjir kemana-mana.


Jika seperti itu, kamu tidak bisa mengambil manfaat. Maka sebaiknya seorang guru (pengisi pengajian, pemberi prifat, penceramah) jika merasakan yang mendengarkan (audiencess) telah merasa bosan, hendaklah ia segera menghentikan atau mengistirahatkan acaranya. Adakanlah break. Kosongkanlah sampah-sampah pikiran mereka dengan teknik tertentu. Humor, guyonan, adalah diantaranya. Bisa juga dengan cerita, pengalaman, atau humor-humor jenaka.

referensi: Dr. Yahya bin Abdurrazaq Al-Ghausani, buku metode cepat hafal al-Qur'an.